12 Menit: Kemenangan untuk Selamanya

Judul : 12 Menit: Kemenangan untuk Selamanya

Produser: Cindy Sutedja, Regina Septapi
Sutradara: Hanny R Saputra
Pemeran: Titi Rajobintang, Amanda Sutanto, Hudri, Arum Sekarwangi, Marching Band Bontang Pupuk Kaltim

Sipnosis

Grand Prix Marching Band tinggal enam bulan lagi. Rene (Titi Rajobintang), pelatih baru Marching Band Bontang, merasa timnya belum siap untuk berkompetisi di ibukota. Audisi terakhir hanya menghasilkan satu pelajar mata keranjang, yang lebih tertarik dengan nomor telepon pengajarnya yang ayu itu ketimbang notasi musik. “Kalau nggak bisa cari pemain, biar saya yang cari
sendiri!” hardik Rene pada asistennya. Lantas, selang beberapa adegan dan beberapa perkenalan tokoh lainnya, kita melihat Rene ada di tengah pepohonan.

Bagaimana ia bisa sampai di situ, atau punya pikiran ke tempat itu, tak terjelaskan. Tiba-tiba, terdengar irama tetabuhan dari jauh. Tiba-tiba, film ganti gambar menampilkan Tara (Arum Sekarwangi) begitu terampilnya menggebuk tong dan kaleng kosong. Mereka berkenalan. Dan Rene mendapat pemain yang ia cari.

Kebetulan semacam ini begitu banyak ditemukan dalam 12 Menit: Kemenangan untuk Selamanya. Kebetulan menjadi andalan Hanny  Saputra untuk memantik momen-momen dramatis dalam film garapan terbarunya ini. Perhatikan ketika Lahang (Hurdi), seorang anggota Marching Band Bontang, sedang bergulat menghadapi ayahnya yang sakit keras tapi menolak untuk ke dokter. Pada adegan genting itu, ayah Lahang mengutarakan harapannya untuk menjadi elang hitam pada kehidupan berikutnya.

Beberapa adegan kemudian dan pengungkapan cerita yang dialami tokoh-tokoh lainnya, kita mendapati Lahang sedang bersiap untuk Grand Prix Marching Band di Istora Senayan.
Tiba-tiba Lahang mendapat kabar bahwa ayahnya baru saja meninggal. Tiba-tiba juga seekor elang hitam melintas di atasnya, di langit ibukota yang nampak cerah dan bebas dari burung lain.

Perhatikan juga perkembangan yang Elaine (Amanda Sutanto) alami dari mendaftar sampai akhirnya memimpin Marching Band Bontang. Semuanya penuh kebetulan. Gadis setengah-Jepang-setengah-Indonesia ini mendaftar sebagai field commander, tapi posisi itu sudah terisi sehingga Elaine harus terima menjadi salah satu pemain dalam ansambel.

Tiba-tiba sang field commander mengalami kecelakaan. Tiba-tiba Elaine naik pangkat ke posisi yang diinginkannya itu, tanpa ada nama lain yang dipertimbangkan. Padahal, kalau kita menalar rangkaian cerita film ini, Elaine adalah anggota baru. Kredibilitasnya barulah sebatas informasi yang hanya diketahui pelatihnya. Elaine bahkan masih kesusahan  meyakinkan rekan sepermainannya kalau ia berkomitmen terhadap Marching Band Bontang, mengingat ia selalu datang terlambat dan pulang awal setiap latihan. Lantas, kenapa ia dianggap layak
memimpin tim yang sudah berlatih lama sebelum ia hadir ini?

Belum lagi penempatan konfliknya. Tara, Lahang, dan Elaine tiba- tiba dirudung masalah pribadi menjelang Grand Prix Marching Band. Tiba-tiba pula semua masalah itu selesai sebelum Grand Prix. Sebuah kebetulan yang sungguh menyenangkan bagi tokoh-tokoh cerita (dan mungkin juga bagi pembuat film), tapi tidak bagi penonton.

Kita bisa saja berdalil, “Mungkin cerita aslinya memang begitu.” Betul, kita tidak bisa mengabaikan status 12 Menit sebagai film yang terinspirasi dari kisah nyata, yang artinya juga ada
kemungkinan yang tidak kecil kalau sang sutradara bisa jadi hanya terlalu setia dengan materi cerita. Tapi, kita di sini tidak sedang bicara dokumentasi kegiatan, melainkan suatu cerita yang
difilmkan. Dalam film, ada ruang sebesar-besarnya bagi pembuat film untuk membangun ceritanya. Gambar dan suara apapun bisa dimanfaatkan dalam susunan apapun demi tercapainya tujuan sang pembuat film, apapun itu.

Dalam 12 Menit, tujuan pembuat film yang paling kentara adalah menuturkan bagaimana tokoh-tokoh cerita mengatasi kesulitan pribadinya untuk satu tujuan bersama. Sayangnya, tujuan ini tidak dicapai dengan kerancakan penyusunan cerita. Pola yang terjadi sepanjang film: muncul konflik, ganti adegan tentang tokoh lain beberapa kali, lalu muncul solusinya. Entah kenapa sang sutradara tidak pernah memberi cukup waktu bagi konflik-konflik cerita untuk “bernafas”, tidak memberi kesempatan bagi penonton untuk memahami cara tokoh-tokoh ini berproses. Hasilnya adalah perkembangan cerita yang begitu serba kebetulan, serba serta-merta.

Meski begitu, 12 Menit bukannya tak punya poin positif. Ada kedewasaan tersendiri di dalamnya yang jarang ditemui dalam film- film Hanny Saputra lainnya. Karya-karya sutradara ini sebelumnya bermasalah karena romantisasi berlebihan. Perhatikan Virgin (2004), Heart (2006), Love is Cinta (2007), Milli & Nathan (2011), Di Bawah Lindungan Ka’bah (2011), hingga Love is U (2012). Semua film itu begitu melebih-lebihkan kisah personal protagonisnya, sehingga kesannya dunia ini sesederhana seks, patah hati, gagal move on, dan kasih tak sampai.

Baca Juga : 

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *