3 Nafas Likas

Judul : 3 Nafas Likas
Produser: Riahna Jamin Gintings, Reza Hidayat
Sutradara: Rako Prijanto
Pemeran: Atiqah Hasiholan, Tissa Biani Azzahra, Tutie Kirana, Vino G Bastian

Sipnosis

Dua tahun setelah ia mengangkat kisah hidup KH Hasyim Ashari, Rako Prijanto mengalihkan pandangannya ke Sumatera Utara. Tepatnya di Tanah Karo. Di sana, ada perempuan bernama Likas Tarigan, istri Letjen Djamin Gintings. Dibanding KH Hasyim Asyari, nama Letjen Djamin Gintings mungkin belum begitu dikenal luas masyarakat Indonesia. Bagaimana membikin sebuah film tentang isteri seorang pahlawan nasional yang tak begitu luas dikenal, tanpa tokoh utamanya menjadi bayang-bayang sang suami? Inilah tantangan yang semestinya dijawab oleh Rako Prijanto.

Film 3 Nafas Likas dibuka dengan Hilda (Marissa Anita) berkendara dalam sebuah jip yang menyusuri sebuah perkebunan. Hilda pergi ke perkebunan itu untuk menemui Likas Tarigan (Tutie Kirana) dalam rangka penulisan buku biografi tentang Likas. Sebagai catatan, buku Perempuan Tegar dari Sibolangit karya Hilda Unu-Senduk adalah basis film ini.

Film ini lantas mengajak kita mengikuti perjalanan Likas (sebagaimana dituturkannya sendiri) bersama ketiga “nafas”-nya: ibu (Jajang C Noer), kakak Njoreh Tarigan (Ernest Samudra), dan
suaminya Djamin Gintings (Vino G Bastian) dalam tiga potret kehidupannya: kehidupan masa kecilnya di Sibolangit, kehidupannya setelah lulus sekolah guru menjadi istri seorang pejuang, dan
kehidupan masa tuanya menjadi isteri pejabat pasca proklamasi kemerdekaan sampai sekarang.

Kita melihat bagaimana Likas menyikapi kodratnya sebagai perempuan, sebagai seorang istri/ibu, dan juga sebagai seorang pejuang—jika definisi pejuang boleh diperlebar. Sedari kecil,  Likas berani menentang patriarki. Ia tak ingin mengikuti kodrat perempuan yang di zamannya “diperuntukkan” untuk membantu suami mengurus keluarga, ternak, dan ladang bahkan hingga larut malam ketika para suami bersenang-senang minum tuak. Dengan dukungan ayah (Arswendi Nasution) dan kakaknya, ia ingin bisa mencari uang sendiri dengan menjadi guru, meskipun ibunya menentangnya.

Keinginannya mengangkat martabat perempuan bahkan masih terbawa sampai ia lulus kelak dari sekolah guru, saat ia berpidato dengan berapi-api di pertemuan pemuda Karo. Dengan lantang ia menyuarakan agar perempuan berani menuntut hak-haknya. Pertemuan pun geger, namun ia tak gentar. Dalam pelarian, ia pun pernah memimpin sekelompok wanita dan anak-anak termasuk ibu mertuanya, untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman.

Satu adegan di mana Likas memeluk seorang wanita yang bayinya meninggal karena kedinginan dalam pelarian adalah salah satu momen yang paling kuat dan
emosional di film ini. Pengayoman seorang pemimpin dan kelembutan seorang ibu melebur dalam diri Likas pada adegan tersebut.

Baca Juga : 

 

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *