Yang Tidak Dibicarakan Ketika Membicarakan Cinta

Judul : Yang Tidak Dibicarakan Ketika Membicarakan Cinta

Produser: Parama Wirasmo, Tia Hasibuan, Fauzan Zidni, Ninin Musa
Sutradara: Mouly Surya
Pemeran: Nicholas Saputra, Ayushita Nugraha, Karina Salim, Anggun Priambodo, Lupita Jennifer

Sipnosis :

Setelah mempertaruhkan awal karier penyutradaraannya melalui karya yang secara tematik dan teknis tidak mudah (Fiksi, 2008), Mouly Surya dalam film keduanya ini malah memilih menempuh jalan pedang sebagai ronin (samurai tak bertuan) yang jauh penuh risiko. Itulah jalan para petarung sejati yang,  dalam idealisasi budaya populer, digambarkan tidak sudi menghabiskan umur sebagai mediocre, untuk menemukan jatidiri dan takdirnya sendiri.

Di perfilman Indonesia mutakhir Mouly bukan yang pertama dan satu-satunya, tentu saja. Sebelumnya sudah ada Garin Nugroho, Edwin, Paul Agusta, Djenar Maesa Ayu, dan Kamila Andini. Sebagaimana yang lain, ia membawa gagasan dan menawarkan estetika yang bukan sekadar kreatif atau unik, tapi jauh melampaui itu semua, yaitu jujur dan otentik. Pada Mouly, setidaknya di film ini, terbaca perspektif perempuan yang kuat. Sesuatu yang mungkin sangat disadari atau sebaliknya malah sama sekali tidak, karena seniman memang kerap merepoduksi makna secara intuitif.

Ode untuk Perempuan

What They Don’t Talk When They Talk About Love bisa dibilang film perempuan. Sebuah ode untuk perempuan, yang barangkali hanya bisa disampaikan dengan kejujuran perempuan. Melalui dua remaja yang baru beranjak dewasa, Diana (Karina Salim) dan Fitri (Ayushita Nugraha), film ini perlahan-lahan menelisik kerumitan sekaligus kesederhanaan perempuan. Rumit, misalnya, tergambar pada beberapa kesibukan Diana dan Fitri untuk selalu terlihat menarik di mata lawan jenis. Sementara dalam perkara cinta keduanya justru sangat sederhana, karena sepenuhnya bersandar pada hati atau perasaan.

Menjadi sangat menarik karena Diana dan Fitri masing-masing penderita rabun jauh dan penyandang tunanetra yang bersekolah sekaligus tinggal di asmara SLB (Sekolah Luar Biasa). Diana yang konservatif jatuh cinta pada Andhika (Anggun Priambodo), murid baru yang pendiam. Sedangkan Fitri yang lebih terbuka menyerahkan diri pada Edo (Nicholas Saputra), pemuda tunarungu anak angkat pemilik warung di sekolah yang berpura-pura menjadi “penampakan” seorang dokter. Karena tidak bisa melihat, keduanya sangat mempercayai perasaannya, meskipun Andhika seperti tak acuh dan Edo terkuak kebohongannya.

Penonton, yang bisa menyaksikan segala sesuatu yang tidak terlihat oleh Diana dan Fitri, seolah menjadi saksi kesahihan keyakinan Mouly bahwa (takdir) perempuan melakoni asmara dengan bersandar pada hati merupakan suatu keistimewaan. Dengan penggambaran mendetail kita diajak merasakan getaran cinta Diana dan berbagai usahanya merebut hati Andhika, yang sebetulnya sudah mempunyai pacar. Juga perasaan Diana yang sebaliknya terhadap sang ibu (Tutie Kirana), yang sangat dingin dan mungkin menitipkannya di asrama untuk membuangnya.

Begitu pula pilihan hati Fitri pada Edo, dan bukannya Lukman (Khiva Iskak), pacarnya yang kaya. Padahal, sebagaimana Lukman, cowok bergaya punk itu pada awalnya juga terkesan memanfaatkan kebutaan si gadis buat sekadar melampiaskan gejolak seksualnya. Namun, menyaksikan Edo sejak awal selalu mencuri-curi pandang dan mau bersusah-payah menjalin komunikasi dengan aksara Braille, kita akhirnya bisa percaya bahwa perasaan Fitri tidak salah. Edo hanya tidak tahu cara mendapatkan cinta Fitri kecuali dengan memperdayainya, karena setelah dipungut dari tong sampah oleh Bu Rusli (Jajang C Noer) ia kelihatannya tidak mendapat pendidikan cukup baik.

Baca Juga : 

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *