A Copy of My Mind

Produser:  Tia Hasibuan, Uwie Balfas
Sutradara: Joko Anwar
Pemeran:  Tara Basro, Chicco Jerikho, Maera Panigoro, Paul Agusta, Ronny P Tjandra

Eklektisisme dalam mencari formula “going gaga” Di awal tahun 2000-an, salah satu kata yang paling sering dipakai anak gaul Jakarta untuk mendefinisikan diri sendiri adalah “eklektik”. Segalanya serba eklektik: set DJ, gaya bermusik, gaya berpakaian, ideologi. Jika masih bingung dengan identitas, panggil saja diri “eklektik.”

Anak gaul Jakarta tak pernah setia dengan patois mereka sendiri, tapi sejak era itu Joko Anwar masih bertahan menjadi salah satu sutradara komersil Indonesia yang paling eklektik dalam soal gaya, paling sering bereksperimen dengan bentuk, genre, bahkan disiplin karyanya: setelah mengawali karirnya di industri film mainstream Indonesia dengan menulis skenario film satir ringan Arisan, Joko kemudian menyutradarai film Woody Allen-lite Janji Joni, film pseudo-noir Kala, film gothic- psycho-thriller Pintu Terlarang, kemudian drama keluarga-gore Modus Anomali.

Ia juga sempat menulis skenario lagi untuk film komedi Quickie Express, film drama fiksi., dan adaptasi bebas kitab esek-esek Moammar Emka, Jakarta Undercover, yang ia gubah menjadi film kejar- kejaran dengan judul sama yang mungkin bisa diberi judul alternatif Run Luna Maya Run. Keeklektikan Joko juga melebar ke luar film: bikin musikal off-off-off Broadway Onrop!, serial TV horor fantasi Halfworlds, dan jadi vokalis superband Mantra yang dimotori Stephen Malkmus, eh, Zeke Khaseli.

Keeklektikan, karena ia konsisten menjaganya, mungkin memang sudah jadi identitas Joko. Sebagai anak yang dibesarkan oleh Orba kemudian diberi kesempatan oleh sejarah untuk menikmati gegar kebebasan reformasi ’98, ia sepertinya cukup bahagia cap-cip-cup kembang kuncup memilih berbagai macam bentuk karya untuk mengekspresikan ka-auteur-annya. Selain itu, keeklektikan ini mungkin didasari hasratnya untuk menemukan formula film komersil yang bisa membuat penonton Indonesia “going gaga”.

Joko Anwar vs. @jokoanwar

Dalam hal tema, ada beberapa benang merah yang meyambungkan karya-karya Joko selama ini, salah satunya adalah kritik sosial yang dilancarkan dengan membuat mise-èn-scene yang menggambarkan Indonesia sebagai tempat antah-berantah kelam-mencekam (noir?) di mana satu-satunya hukum yang berlaku adalah hukum rimba, yang wong ciliknya berharap sia-sia akan datangnya seorang Ratu Adil— dan begitu datang ternyata ia seorang Rice Queen (satu lagi benang merah film-film Joko adalah gay subtext yang menjadi kritiknya terhadap moralitas yang kelewat heteronormatif di Indonesia sepertibisa dilihat di Kala; atau dengan menunjukkan skeptisisme terhadap kebahagiaan ala keluarga sakinahmawaddah wassalam khas Indonesia (Pintu Terlarang);

Atau sekalian mempreskripsikan final solution buat keluarga kelas menengah ngehek macam itu (Modus Anomali). Selain dalam film dan opera musikal, kritik sosial Joko menemukan outletnya yang paling maksimal di media sosial. Sebagai @jokoanwar, selebtwit dengan pengikut 911 ribu (per 23 Februari 2016), ia gemar melancarkan kritiknya dengan lebih literal. Indoprogress mungkin akan mendefinisikan aliran politik @jokoanwar sebagai “liberal tua”, sehingga tidak mengherankan jika pada pilpres 2014 kemarin ia sempat mejadi relawan konser Salam Dua Jari Jokowi.

Setelah Modus Anomali, yang menunjukkan kemarahan luar biasa terhadap konsep nuclear family dan masyarakat yang mempromosikan konsep tersebut—hingga settingnya pun digubah bukan hanya menjadi tempat berhukum rimba tapi rimba beneran yang memangsa nuclear family tadi!—ada satu pertanyaan penting yang timbul buat Joko: ideologi pursuit of happiness macam apa yang ia tawarkan, yang ia percayai? Kritiknya terhadap konsep kebahagiaan orang lain sudah mencapai titik jenuh—apakah kemudian raison d’être-nya sebagai seorang sutradara? Atau ia lebih nyaman mengkritisi dan menyinyiri semuanya saja? Itu pilihan berkreasi yang sah-sah saja tentu, tapi jika Lenin (dan Godard) benar, bahwa “ethics are the esthetics of the future”, ethics macam apa yang didambakan Joko Anwar si auteur (bukan @jokoanawar si selebtwit) untuk kehidupan berbangsa dan bernegara di NKRI harga nego ini?

Baca Juga :

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *