Atambua 39 Derajat Celcius

18. Judul : Atambua 39 Derajat Celcius
Produser: Mira Lesmana
Sutradara: Riri Riza
Pemeran: Gudino Soares, Petrus Beyleto, Putri Moruk

Sipnosis

Secara tegas Atambua 39o C memperkenalkan dirinya sebagai sebuah pernyataan politik. Di awal film yang disutradarai Riri Riza ini tertulis: “Atambua, 13 tahun setelah referendum.” Ini bukan potret sebuah kota eksotis yang dikunjungi sekelompok turis berkedok pembuat film. Ini adalah bentuk refleksi sejarah bangsa.

Pendirian pembuat film disuarakan oleh Ronaldo (Petrus Beyleto), 47 tahun, mantan pejuang milisi pro-integrasi yang kini bekerja sebagai supir bus antarkota. Anehnya, sepanjang film, penonton lebih sering mendapati beliau mabuk-mabukan, pulang larut malam dalam keadaan teler, muntah, lalu tidur sampai malam lagi. Kenapa? Usut punya usut, beliau tercekik oleh kekecewaan masa lampau. “Timor Leste hanya akan bisa berkembang kalau bergabung dengan Indonesia,” tukasnya dalam sebuah sesi peminuman, sebuah pendapat yang tak disetujui teman minumnya. Terjadilah pertengkaran dan Ronaldo masuk penjara.

Motif dan Konsekuensi

Adegan ini menjadi penting bagi keseluruhan film. Pasalnya, cerita Atambua 39o C berfokus pada penggambaran konsekuensi pasca referendum, harga apa saja yang harus dibayar masyarakat atas peristiwa berdarah tersebut.Konsekuensi yang paling kentara adalah perpecahan keluarga yang dialami Joao (Gudino Soares) dan Nikia (Putri Moruk). Joao adalah anak Ronaldo, sementara Nikia adalah teman masa kecil Joao. Keduanya memilih untuk menolak lupa. Joao rutin mendengarkan kaset yang berisikan rekaman suara ibunya, yang memohon Ronaldo untuk membawa anaknya ke Liquica, tempat ibu Joao tinggal sekarang.

Orang tua Joao berpisah ketika Timor Leste lepas dari Indonesia, dan sampai sekarang Joao hanya bisa mengingat “suara dan wangi payudaranya” saja. Nikia sendiri memilih pulang sebentar ke Atambua untuk menguburkan kakeknya secara layak. Ia merasa ada duka yang belum terselesaikan. Dalam jihad melawan amnesia ini, Joao dan Nikia bersua.

Rekaman kaset menjadi motif penting yang berulang sepanjang Atambua 39C. Penting karena ada banyak dimensi yang disasar pembuat film. Di satu sisi, kaset menjadi penanda historis dari cerita film. Kaset merupakan medium komunikasi yang lazim dipakai oleh sanak saudara yang terpisah di Timor Leste dan Indonesia kala peristiwa separasi terjadi. Biasanya kaset dititipkan pada relawan yang bolak-balik antar dua negara, untuk kemudian diantar pada orang di negeri sebelah. Milisi yang menjaga di perbatasan cenderung tidak menyita kaset, oleh karena itu medium ini yang sering dipakai untuk berkomunikasi.

Di sisi lain, kaset menjelaskan berbagai trauma yang coba dilawan masing-masing tokoh. Atambua 39o C bisa dibilang adalah film yang hening. Konflik dilakonkan nyaris tanpa dialog, sementara visual film lebih banyak diserahkan pada rutinitas para tokoh, mulai dari Joao yang hampir tak bicara dengan bapaknya hingga romansa antara Joao dan Nikia yang tak kalah heningnya. Kalaupun ada dialog yang terjadi, tujuannya lebih pada luapan emosi ketimbang penanaman informasi cerita.

Mayoritas dialog dalam Atambua 39o C diisi oleh pertengkaran atau pernyataan tentang tanah Timor Leste. Kaset menjadi semacam bilik pengakuan, di mana tokoh-tokoh ini bisa membuka rahasia terburuk mereka, dan pembuat film secara strategis menempatkan rekaman suara mereka menjelang akhir film.

Strategi penuturan macam ini boleh jadi terasa verbal, namun sangat beralasan dalam konteks film. Kaset sudah menjadi bagian kehidupan sehari-hari dan tokoh-tokoh Atambua 39o C merupakan orang- orang kecewa yang teralienasi dari sesamanya. Ketika banyak perasaan-perasaan yang tak terbahasakan dan tak mungkin dibagi, ke mana lagi mereka bisa jujur kalau bukan pada diri sendiri? Kaset memungkinkan mereka untuk menghadapi kembali dan membebaskan diri dari kenangan-kenangan buruk.

Kaset juga yang menjadi jendela kecil untuk mengintip kehidupan di Atambua. Salah satu rutinitas Joao yang ditampilkan pembuat film adalah mengganti baterai walkman dengan baterai-baterai yang ia jemur di atap rumahnya. Tersirat konsekuensi-konsekuensi lainnya pasca referendum, yakni kemiskinan dan ketertinggalan yang dialami masyarakat Atambua. Listrik belum masuk ke seluruh wilayah kota. Barang sekecil baterai menjadi begitu mahal. Pernyataan Ronaldo akan nasib Timor Leste terasa kian bergema.

Baca Juga : 

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *