Cinta Dalam Kardus

Judul : Cinta Dalam Kardus

Produser: Salman Aristo, Ruben Adrian
Sutradara: Salman Aristo
Pemeran: Raditya Dika, Anizabella Lesmana, Dahlia Poland, Fauzan Nasrul, Wichita Setiawati

Sipnosis :

Sesungguhnya siapapun yang bisa berdamai dengan diri sendiri pantas mendapat Nobel. Atau minimal kesempatan kedua. Sepelik itu memang keadaannya. Tanya saja ke Miko (Raditya Dika), jagoan kita dalam Cinta dalam Kardus, film terbaru garapan Salman Aristo. Satu malam, dalam ajang stand-up comedy di sebuah kafe yang berdekorasi seadaanya (catatan tersendiri bagi pembuat film), Miko berteori: setiap hubungan pada akhirnya akan bubar karena salah satu dari pasangan terkena sindrom BTB alias Berubah Tidak Baik.

Argumen Miko bukannya tak berdasar. Nyatanya, Miko adalah veteran perang batin yang tak pernah beruntung setiap berhubungan dengan lawan jenis. Garis cerita Cinta dalam Kardus, yang hampir sepenuhnya terjadi dalam satu malam satu ajang stand-up comedy, menjadi terapi bagi Miko untuk berdamai dengan hal-hal yang mengganjal di hatinya. Sepanjang film, penonton (dan juga penonton di kafe) melihat Miko mengkulik isi kardusnya, menjelaskan cerita di balik setiap suvenir penanda kegagalan hubungan yang pernah ia lalui.

Motif Kardus

Tapi rasanya terlalu menyederhanakan perkara kalau kita berhenti pada perbandingan dengan Annie Hall ini. Pasalnya, kemiripan hanya terjadi di tingkat permukaan. Kalau kita cermati lagi, detail-detail di Cinta dalam Kardus mempunyai keunikan tersendiri yang sesuai (dan turut membangun) materi ceritanya.Setiap adegan kilas-balik yang bersangkutan dengan Putri ditampilkan secara realistis, di tempat yang nyata dan tidak direka-reka. Sebaliknya, setiap adegan kilas-balik yang dipantik barang-barang dalam kardus ditampilkan dalam latar rekaan yang dominan motif kardus.

Dalam cerita dengan Kirana, misalnya, kita melihat ATM tempat Miko dan Kirana pertama kali bertemu dibangun dari kardus-kardus. Begitu pula toko baju tempat mereka berseteru; kita akan melihat baju-baju yang tergantung dalam rak yang terbuat dari kardus. Pola serupa turut muncul dalam kilas-balik soal Klara. Kita melihat suasana orientasi mahasiswa baru yang dominan oleh kardus. Hanya Miko, Klara, dan seorang kakak kelas yang benar-benar nyata. Mahasiswa lain serta segala ornamen pelengkap terbuat dari kardus.

Dari pola ini, ada dua ambisi pembuat film yang kita bisa coba tangkap. Pertama, pembuat film ingin memberi kedalaman bagi tokoh Miko, tokoh yang sebelumnya dikenal khalayak dalam serial Malam Minggu Miko. Dalam serial yang setiap episodenya berdurasi sepuluh menitan itu, kita hanya melihat akibat dari segala kecanggungan Miko terhadap lawan jenis. Di Cinta dalam Kardus, kita melihat sebabnya, atau tafsir visual Salman Aristo dan kawan-kawan akan cara Miko berpikir dan berproses, yang menjadikan film ini cukup bisa berdiri sendiri tanpa harus dikait-kaitkan dengan Malam Minggu Miko.

Setiap perempuan yang Miko sudah lewati, yang sudah disederhanakan menjadi sebuah suvenir dalam kardus, dikenang dengan cara yang parsial, tidak utuh, dan bisa jadi direka-reka untuk mendukung pandangan Miko soal cinta. Sementara itu, episode dengan Putri masih berlangsung. Oleh karenanya, kenangan tentang Putri masih dimainkan secara komplet. Faktanya, ketika Miko mulai berpikiran untuk ‘memasukkan’ Putri ke dalam kardus, motif kardus ini kembali muncul. Dalam satu adegan imajinasi Miko tentang cara memutus hubungan dengan Putri, kita melihat kedua sejoli ini dalam sebuah balon udara yang terbuat dari kardus. Putri sendiri ditampilkan hitam putih, mencerminkan perasaan Miko yang memudar.

Baca Juga :

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *