Coboy Junior The Movie

Coboy Junior The Movie

Judul : Coboy Junior The Movie
Produser: Frederica
Sutradara: Anggy Umbara
Pemeran: Coboy Junior

SIPNOSIS

Coboy Junior sedang naik daun. Anak-anak ini adalah kisah sukses yang terhitung magis di negeri ini. Di tengah derasnya impor boyband dari Asia Timur, Coboy Junior melesat sebagai grup vokal yang digemari jutaan anak dan remaja seantero negeri. Coboy Junior The Movie juga menjanjikan dirinya sebagai film yang magis. Film ini tidak main-main dalam memberi janji hiburan. Lihat saja poster filmnya. Keempat personil grup vokal Coboy Junior menari-nari dengan gelimangan cahaya warna-warni di sekujur tubuh mereka. Glamor. Di poster juga tertulis dengan cukup mencolok: “100 Dancers, 20 Songs, 1 Grand Final”. Kuantitas skala besar ala konser-konser papan atas langsung dikedepankan pada calon penonton.

Kasus Coboy Junior The Movie ini mirip-mirip dengan Never Say Never, dokumenter tahun 2011 tentang Justin Bieber. Si idola masih terlampau muda, tapi popularitasnya sudah terlampau mendunia. Cerita hidup dia masih terlampau sedikit untuk diangkat, tapi di zaman internet ini hampir tidak ada cerita yang tidak diketahui publik. Semuanya sudah tersedia di laman Wikipedia terdekat. Tidak heran kalau kemudian jualan utama Never Say Never bukanlah kisah hidup sang idola, tapi pengalaman menonton konser Bieber dalam sensasi 3D.

Menariknya Coboy Junior The Movie disutradarai oleh Anggy Umbara. Ia sangat bisa diandalkan untuk kemasan film warna-warni nan glamor. Mama Cake, film Anggy sebelumnya, begitu kental akan kosmetik visual semacam ini, yang sayangnya sama sekali tidak membangun cerita yang ingin disampaikan. Dalam Coboy Junior The Movie, pendekatan visual Anggy menemukan konteks yang tepat. Cerita adalah prioritas sekian. Toh, kebintangan Coboy Junior sudah cukup jadi alasan bagi penonton untuk bertahan dari awal sampai akhir film. Yang penting adalah bagaimana caranya grup idola ini ditampilkan dalam kemasan yang memukau.

Terlihat sekali usaha Anggy untuk memperbanyak kosmetik pada tatanan filmnya. Dari segi penyajian, Coboy Junior The Movie begitu mengumbar nada dan dakwah. Beberapa menit kita melihat mereka menyanyi, beberapa menit kemudian kita menyaksikan mereka berbicara ke kamera, membagi isi pikiran mereka dan kiat-kiat sukses. Begitu pola yang terjadi sepanjang film.

Perihal dakwah ini agak susah untuk tidak terdengar menceramahi. Dakwah ini sudah membanjiri telinga penonton sejak awal film, yang didukung sejumlah pesan moral yang tertulis di layar. Penonton benar-benar diusahakan agar tidak melewatkan kata-kata mutiara ini. Untungnya, perihal nada, pembuat film terhitung taktis untuk tidak membanjiri penonton dari awal. Pembuat film cukup punya kesabaran untuk membangun kontras para penampil di sepanjang film. Acuannya adalah fase kompetisi Xplode, pentas nyanyi dan tari terbesar di Indonesia, yang menjadi konflik utama Coboy Junior The Movie.

Di babak kualifikasi, kita melihat Coboy Junior tampil menyanyi saja, dengan minim koreografi. Mereka bahkan mendapat kritik atas miskinnya koreografi oleh para juri Xplode. Sementara itu, grup lain lebih banyak menekankan pada koreografi. Di babak semifinal, Coboy Junior mulai melibatkan koreografi dalam penampiln mereka, hasil dari belajar dan bekerjasama dengan satu kelompok tari. Sementara itu, kelompok lain juga mulai memberi porsi lebih besar pada menyanyi. Di babak final, penampilan tari dan nyanyi ini mulai dikombinasikan dengan desain panggung. Kata ‘glamor’ jadi sesuatu yang tidak terhindarkan.

Tidak nyaman

Dengan pembabakan macam ini, penonton mendapat variasi. Coboy Junior The Movie setidaknya tidak menjadi katalog pentas semata, yang sekadar merekam pertunjukan, tapi tidak melibatkan penonton dalam proses pembangunan pertunjukan itu sendiri. Dalam Coboy Junior The Movie, setiap penampilan punya rasanya sendiri dan setiap babak jadi punya tekanannya sendiri. Babak grand final jadi memang terasa penting, karena pembuat film secara konstan menempatkan para tokoh ceritanya di posisi yang tidak nyaman, di mana setiap peserta benar-benar dituntut untuk melampaui penampilan yang sudah-sudah.

Dalam segi penokohan, pembuat film cukup bijak untuk tidak menjadikan kesuksesan Coboy Junior sebagai sesuatu yang serta-merta. Selalu ada aral yang melintangi langkah-langkah mereka. Yang artinya, kesuksesan Coboy Junior adalah buah dari proses yang putus. Dua plot sampingan dikerahkan untuk mencapai ‘pesan moral’ ini: satu terkait salah satu anggota yang meminta anaknya untuk fokus sekolah, satu lagi tentang persaingan Coboy Junior dengan Superboys dan The Bangs.

Subplot pertama bisa dipahami. Tarik ulur antara karier dan sekolah adalah wacana yang selalu berulang setiap kali ada bintang cilik yang naik daun. Tentunya pembuat film (dan tim manajemen Coboy Junior) ingin memberi kesan pada penonton anak-anak (dan orangtua mereka) kalau jadwal pentas tidak menjadikan para anggota Coboy Junior lupa pada pendidikan. Hal ini pula yang sering disuarakan oleh para anggota Coboy Junior dalam dakwah-dakwah mereka ke kamera.

Subplot kedua bisa dipahami sebagian. Namanya juga kompetisi, pasti ada friksi-friksi antarkelompok di dalamnya. Sebagian lain yang tidak bisa dipahami adalah keputusan pembuat film menampilkan grup-grup pesaing Coboy Junior dalam kerangka moral yang ‘buruk’. Anggota dan pelatih Superboys selalu muncul dengan muka sombong;

Kata-kata dan perilaku mereka kasar. The Bangs setali tiga uang. Bedanya, pelatih The Bangs adalah orang Korea dan lebih tidak tahu batas dibanding pelatih Superboys. Saat Coboy Junior latihan untuk penampilan babak final, pelatih The Bangs diam-diam menyelinap dan mensabotase panggung. Akibatnya, salah satu anggota grup jagoan kita cedera menjelang babak final.

Baca juga : 

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *