film The Seen and Unseen

film The Seen and Unseen

film The Seen and Unseen– Ada anggapan bahwa film buatan Indonesia sulit untuk menembus pasar internasional. Faktanya, ada beberapa film Indonesia yang sukses mendunia. Sebut saja “The Raid”, “Headshot”, atau yang baru-baru ini diputar “Marlina, Si Pembunuh dalam Empat Babak”. Semua film itu sukses meraih penghargaan internasional. Selain film yang sudah disebutkan tadi, ada satu film lagi yang sukses menarik perhatian penggemar film internasional. Film itu adalah “The Seen and Unseen”.

Film “The Seen and Unseen” arahan Kamila Andini disambut meriah di Toronto International Film Festival (TIFF) 2017 lalu. Diputar pada tanggal 13 September waktu setempat dalam program Platform, film yang mengisahkan manusia Indonesia khususnya Bali ini diwarnai antusiasme dengan ramainya penonton yang memenuhi ruangan teater, lalu disusul tepuk tangan meriah selepas film berdurasi 86 menit ini ditayangkan.

Film ini disebut-sebut sebagai pilihan terpanas dari pimpinan TIFF, Piers Handling. Ia khusus hadir membuka penayangan film ini dan berkata: “Sewaktu pertama kali saya menonton film ini, saya sangat terkesima dengan sensitivitasnya dalam memahami dunia anak-anak. Film ini menuturkan imajinasi, kreativitas sinema, kesederhanaan, sekaligus hal-hal magis di dalamnya.”

Tantri dan ibunya (BIFF)

“The Seen and Unseen” sendiri menceritakan tentang Tantri (Thaly Kasih) dan Tantra (Gus Sena), sepasang anak kembar berbeda jenis kelamin, atau istilahnya kembar buncing. Dalam film, dikisahkan bahwa Tantra sedang dirawat di rumah sakit, karena memiliki tumor yang mempengaruhi sistem sarafnya. Dia sekarat. Tantri, dan ibu mereka, menatap Tantra iba. Adegan lalu pindah pada saat dimana Tantra masih sehat dan belum dirawat. Diperlihatkan bahwa hubungan Tantra dan Tantri sangat dekat, sehingga membuat penonton juga ikut merasakan kesedihan yang dirasa Tantri. Yang menarik, pemeran ibu Tantra dan Tantri adalah Ayu Laksmi, yang juga bermain dalam film “Pengabdi Setan” sebagai Ibu.

Selama film, kita akan diperlihatkan dunia mimpi yang dialami oleh Tantri setiap malamnya, yang selalu memimpikan Tantra, dengan kondisi sehat tentunya. Dalam mimpi, Tantra dan Tantri selalu terlihat riang. Mereka menyanyi, menari, dan bermain sambil mengenakan kostum tradisional. Kamila dengan apik memperlihatkan pengalaman spiritual mereka yang sarat dengan kearifan lokal, mitos, cerita rakyat, tradisi, serta budaya Bali.

Kamila Andini membuat film dari sudut pandang anak-anak, dalam hal ini Tantri, karena ia merasa dekat dengan kepolosan dan keingintahuan mereka. Kamila Andini juga ingin menggambarkan bagaimana manusia Indonesia yang holistik dari perspektif budaya Bali dalam karyanya tersebut.

Baca juga altikel yang di bawah ini yang sangat seru,lucu, dan menarik:

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *