Gending Sriwijaya

Gending Sriwijaya

Judul : Gending Sriwijaya
Produser: Dhoni Ramadhan, Dian Permata Purnamasari, Pietra M Paloh
Sutradara: Hanung Bramantyo
Pemeran: Slamet Rahardjo, Agus Kuncoro, Sahrul Gunawan, Hafsary Thanial Dinoto, Mathias Muchus, Julia Perez, Oim Ibrahim, Jajang C Noer

SIPNOSIS :

Jangan berharap Gending Sriwijaya memuat banyak aksi laga. Tembak-tembakan dan jotos-jotosan memang menjadi resolusi berbagai konflik dalam cerita, namun Hanung Bramantyo sesungguhnya merancang Gending Sriwijaya sebagai film drama. Durasi film sepanjang 138 menit lebih difokuskan pada relasi tokoh-tokoh cerita yang banyak sekali itu.

Jangan juga terlalu mengharapkan Gending Sriwijaya sebagai potret sejarah. Film ini ahistoris dan memang diniatkan begitu. Hanung Bramantyo mengemas Gending Sriwijaya sebagai sebuah fantasi, di mana segalanya diperbolehkan. Petunjuknya di epilog film. Ada narasi yang mengandaikan kerajaan-kerajaan masih ada sampai sekarang.

Kepatuhan pada fakta historis berarti kurang relevan untuk diulik. Tak masalah apabila Gending Sriwijaya yang dikisahkan dalam film adalah tarian yang diciptakan Malini (Julia Perez), anak Ki Goblek serta salah satu anggota kelompok perampok bentukan ayahnya (Mathias Muchus), untuk mengungkapkan keagungan Sriwiaya.

Faktanya, tarian Gending Sriwijaya baru ada pada tahun 1943, diciptakan oleh Sukainah A Rozak, untuk menyambut tamu-tamu penting yang berkunjung ke Sumatera Selatan. Cerita Gending Sriwijaya sendiri terjadi di Nusantara abad 16, tiga abad setelah keruntuhan Sriwijaya, ketika banyak kerajaan-kerajaan kecil bermunculan dan saling berebut kuasa.

Komentar Sosial dan Konflik Abu-abu

Lantas apa yang bisa kita tarik dari fantasi ini? Komentar sosial. Hanung Bramantyo menjadikan bumi Sumsel sebagai latar untuk alegori tentang kebangsaan, tentang akar-akar buruk yang mendasari sejarah pembentukan bangsa kita. Apa yang penonton lihat boleh jadi klasik, namun apa yang penonton rasakan terasa modern, terasa dekat dengan realita sekarang.

Bayangkan Kedatuan Bukit Jerai, yang dipimpin Dapunta Hyang Mahawangsa (Slamet Rahardjo), sebagai rezim Orde Baru: korup, mengandalkan kekuatan militer, dan banyak memanipulasi sejarah. Sepanjang kepemimpinannya, Dapunta banyak membakar lontar-lontar berisikan nyanyian serta kearifan lokal, lalu menggantinya dengan lontar-lontar yang berisikan pujian dan pemujaan atas kerajaannya.

Bayangkan juga kelompok perampok Ki Goblek sebagai gerakan anak muda di luar rezim: sporadis, penuh gerilya, dan berpihak pada keadilan sosial serta keutuhan sejarah. Ada satu ruangan di goa tempat mereka tinggal yang mereka dedikasikan untuk menyimpan dan melestarikan lontar-lontar bersejarah.

Perseteruan keduanya menggerakkan cerita Gending Sriwijaya. Menariknya, konflik dalam Gending Sriwijaya tak melulu hitam-putih, bahkan lebih banyak abu-abu. Hanung menghabiskan banyak porsi film untuk menyorot intrik-intrik di tubuh masing-masing kelompok. Dalam Kedatuan Bukit Jerai, ada perebutan tahta antara kakak-adik yang dipantik sang bapak. Dapunta memilih si Purnama Kelana (Sahrul Gunawan) sebagai penggantinya.

Ia merasa si anak bungsu lebih terpelajar dan visioner ketimbang kakaknya, Awang Kencana (Agus Kuncoro), yang lebih mengutamakan agresi militer ketimbang pembangunan dan pendidikan masyarakat. Dapunta ingin dua hal tersebut yang menjadi masa depan Kedatuan Bukit Jerai. Awang tak terima. Ia bunuh sang bapak dan fitnah adiknya. Awang jadi raja, Purnama masuk penjara.

Lawan mereka juga sama terbelahnya. Ki Goblek memupuk niat yang mulia, walau jalan yang ditempuh tidak. Ia bersama satuan pejuangnya merampok kereta-kereta kerajaan, lalu memanfaatkan hasil rampokan untuk menghidupi orang-orang yang ikut mereka tinggal di luar Kedatuan Bukit Jerai. Meski begitu, Srudija (T Rifnu Wikana), panglima kepercayaan Ki Goblek, merasa perjuangan mereka sia-sia. Niat boleh mulia, namun tetap saja mereka akan terus dianggap sebagai perampok, diserang tentara kerajaan, dan takkan pernah bisa hidup enak.

Satu wacana yang bisa digarisbawahi dari semua ini: negeri kita didirikan di atas perampokan, pembunuhan, dan kepentingan-kepentingan pribadi. Nyatanya, tatanan cerita Gending Sriwijaya sama sekali tak memberi peran bagi khalayak ramai.

Sedikit sekali porsi mereka dalam film yang berdurasi dua jam lebih ini. Pergerakan cerita hanya digerakkan oleh impuls personal para pemimpin. Ada pembelotan Purnama dari kerajaannya, pengkhianatan Srudija dan Taruh Hitam (prajurit Ki Goblek, diperankan Qausar H Yudana) dari kelompoknya, balas dendam Malini terhadap Kedatuan atas kematian ayahnya, serta pertarungan Awang versus Purnama hingga titik darah penghabisan.

Baca Juga : 

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *