Jokowi

Judul : Jokowi
Produser: KK Dheeraj
Sutradara: Azhar Kinoy Lubis
Pemeran: Teuku Rifnu Wikana, Prisia Nasution, Ayu Dyah Pasha,
Susilo Badar, Landung Simatupang, Ratna Riantiarno

Sipnosis

Entah bagaimana ceritanya, film Indonesia masa kini gandrung akan tokoh, terutama yang berasal dari masa lalu yang jauh. Tak hanya itu, melalui pelekatan sang tokoh dengan atribut sosialnya yang dianggap mewakili kelompok sosial tertentu, muncul pula klaim sejarah, dimana kelompok tersebut digambarkan berjasa besar bagi komunitas yang lebih besar bernama bangsa. Dengan cara yang sama,ada tawaran nilai yang disuguhkan sebagai pelajaran untuk masa kini. Soegija (2012), dan terakhir Sang Kiai (2013), adalah contoh yang sempurna.

Keduanya masing-masing mengangkat peran kalangan Katolik dan Muslim di masa perjuangan kemerdekaan. Pesan politiknya kurang lebih gampang dibaca. Soegija menepis propaganda
hitam kaum Islamis yang menempatkan orang Katolik (lebih luasnya lagi Kristen) sebagai antek penjajah; demikian pula Sang Kiai yang mengajarkan bahwa Muslim yang baik bukanlah Muslim yang sektarian dan pro-Daulah Islamiyah, melainkan Muslim yang pro-Republik.

Film Jokowi menunjukkan tren yang sama, meski tak menyentuh perjuangan kemerdekaan seperti dua film di atas. Sebagaimana yang terjadi pada tokoh aslinya, Joko “Jokowi” Widodo adalah bagian dari generasi yang lahir agak jauh dari masa itu. Satu-satunya momentum sejarah yang diangkat dalam Jokowi adalah pembantaian 1965-66. Namun itu pun sejenak saja dan tak punya signifikansi apa-apa, kecuali untuk memberi gambaran latar belakang belaka bahwa ia, layaknya orang banyak di zaman itu, mengalami kesulitan ekonomi serta harus mengungsi ke sana-kemari—salah satunya karena tragedi pembantaian kurang lebih satu juta manusia tersebut. Sejarah dipersempit menjadi riwayat pribadi, yang kemudian dikosongkan dari konteks sosio-politisnya, termasuk dari interaksi lingkungan sekitarnya.

Logika Sinetron

Joko Widodo adalah fenomena—tahun lalu ia terpilih sebagai gubernur Jakarta, setelah sebelumnya menjabat walikota Solo. Tak perlu diungkapkan lebih jauh apa saja yang telah ia perbuat untuk warga Jakarta dan Solo. Orang tinggal menyalakan televisi dan membaca koran. Tapi di sinilah muncul pertanyaan: selain fakta bahwa nama Joko Widodo tengah berkibar, adakah alasan lain untuk mengangkat kisah hidupnya ke layar putih?

Secara pribadi, sang Gubernur sendiri, dalam berbagai pernyataannya, tak merestui pembuatan film ini, walaupun tak ada gambaran tentang dirinya yang dibuat buruk. Ia dikisahkan tanpa cela: jujur, sederhana, dan sukses dari jerih payahnya pribadi. Nampaknya, semua pelekatan kualitas yang sempurna itu tidak lain demi memenuhi kerinduan khalayak ramai akan sosok pemimpin yang populis, dan itu ditemukan antara lain dalam sosok Joko Widodo. Ini menciptakan pasar tersendiri. Menjelang pemilihan gubernur dan setelahnya, buku-buku
biografi dan motivasi dengan tema Jokowi pun laris manis. Segaris dengan itu, film Jokowi nampaknya tak punya tujuan lain kecuali jualan.

Namun bagaimana Joko Widodo muncul sebagai karakter serba-sempurna yang ‘layak jual’? Dalam Jokowi, sang gubernur (diperankan oleh Teuku Rifnu Wikana) adalah anak sulung dari keluarga ‘orang susah’ namun bermartabat. Ayahnya adalah tukang kayu yang senantiasa mendukung setiap langkah Joko untuk menjadi ‘orang besar’ dan ‘sukses’, yang mampu melayani masyarakat secara sukarela.

Pendidikan moral di keluarganya berlangsung lewat petuah, yang mengalir deras dari sang ayah (Susilo Badar), juga dari sang kakek (Landung Simatupang). Akibatnya, Joko Widodo pun tumbuh sebagai anak berprestasi di sekolah, tak suka berkelahi, dan kendati gandrung dengan musik ngak-ngik-ngok, ia tak pernah mencicipi alkohol dan main gila dengan perempuan. Joko Widodo kecil tak pernah berubah hingga ia dewasa:

Ia tetap saja pria baik-baik, lurus, dan pemalu. Ditambah lagi dengan segala tabiat baiknya itu, ia sungguh-sungguh sukses meniti karier sebagai pengusaha mebel, dan puncaknya terpilih menjadi gubernur Jakarta. Ini formula lazim—jika bukan basi—yang kini dijajakan dalam acara-acara motivasional di televisi: orang miskin jadi orang kaya, orang kampung jadi orang gedongan, dan perubahan tersebut hanya mungkin lewat ikhtiar yang sungguh-sungguh, plus kehendak ilahiah –tanpa korupsi, tanpa main kotor. Doa orangtua dan kesungguhan pribadi jadi mantra kesuksesan.

Baca juga : 

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *