Kisah 3 Titik

Judul : Kisah 3 Titik
Produser: Lola Amaria
Sutradara: Bobby Prabowo
Pemeran: Lola Amaria, Ririn Ekawati, Maryam Supraba, Donny Alamsyah

Sipnotis

Ada rasa amarah menggelegak di hati para pembuat film Kisah 3 Titik yang diproduseri oleh Lola Amaria. Membandingkan film ini dengan film yang ia sutradarai sebelumnya, Minggu Pagi di Victoria Park, kesan paling menonjol adalah bahwa Kisah 3 Titik lebih merupakan film produser, sementara anggota lain bertindak lebih sebagai penyalur gagasan, yang bekerja dengan baik bahkan sangat baik, yaitu sutradara Bobby Prabowo, editor (Wawan I Wibowo) dan terutama sinematografernya (Nur Hidayat alias Monod).

Rasa amarah itu ditujukan pada ketidakadilan yang diderita para buruh miskin, yang dilukiskan tinggal di rumah petak berhimpitan di balik gedung-gedung tinggi-mewah, atas perlakuan para pengusaha dan sistem ketenagakerjaan yang berlaku. Titik Sulastri (Ririn Ekawati), yang hamil muda dan ditinggal mati suaminya, harus menyerahkan anak balitanya di bawah pengawasan tetangga, agar bisa bekerja di sebuah pabrik pakaian untuk membiayai kelangsungan hidupnya.

Ketika kehamilan tak bisa lagi disembunyikan, ia diberhentikan dengan tidak ada jaminan bisa bekerja kembali. Peraturan perusahaan berkata begitu. Apalagi dia hanya pekerja kontrak.Titik Tomboy (Maryam Supraba) yang nama sebetulnya Kartika, bekerja di sebuah pabrik sepatu kumuh dan runyam, dengan mata telanjang melihat kesewenang-wenangan pemilik pabrik yang meminta seluruh pekerja bagian pengeleman dipecat, dan diganti dengan tenaga kerja yang lebih murah. Centeng perusahaan bekerjasama dengan preman merekrut anak-anak SD untuk melakukan pekerjaan pengeleman itu.

Anak-anak ini juga diracuni oleh preman perekrutnya untuk ‘ngelèm’ (sejenis narkoba murahan yang banyak dilakukan anak jalanan). Dengan begitu sang preman bisa mengeruk duit hasil kerja anak-anak, yang sebetulnya sudah dipotong sebagian. Sebagai anak preman juga, Kartika melawan para preman yang berasal dari kampungnya juga. Hasilnya: babak belur.
Titik Dewanti (Lola Amaria), pekerja keras di sebuah perusahaan besar, dinaikkan jabatan menjadi manajer SDM di pabrik tempat kerja Titik Sulastri yang diakuisisi oleh perusahaan tempat kerja Titik Dewanti.

Melihat perlakuan yang diterima Titik Sulastri, Titik Dewanti meradang dan membela pekerja tanpa daya itu dengan melanggar peraturan perusahaan. Pembelaannya seolah tak bermakna,
karena Titik Sulastri tak mampu berbuat banyak saat bekerja kembali. Ia mengidap kanker.Titik Dewanti ingin mengubah ketimpangan dengan melakukan penelitian dan mengajukan proposal yang lebih manusiawi terhadap kaum buruh. Proposal ditolak mentah-mentah oleh para petinggi perusahaan, karena hanya menambah biaya produksi dan membuat perusahaan tak mampu bersaing dengan perusahaan sejenis di negeri tetangga.

Ia tak mau menyerah. Ia terus berusaha melawan, meski pada akhirnya yang terjadi adalah penyerahan tubuhnya pada bos besar dan yang berbisik padanya bahwa sang bos besar telah membereskan urusan atasan-atasan Titik Dewanti.Lebih menarik lagi, Mouly kemudian menyisipkan semacam kenyataan pembanding yang menggambarkan keempat karakter tersebut tidak memiliki keterbatasan penglihatan dan pendengaran-pengucapan.

Begitu banyak hal yang dilihat dan didengar-diucapkan oleh manusia “sempurna” malah lebih sering mengaburkan bahkan mendistorsi perasaan. Dengan itu Mouly seperti ingin menyatakan, untuk lebih memahami dengan jernih perasaan di dalam hati sebaiknya perempuan menutup matanya, sementara laki-laki mengunci telinga dan mulutnya. Cinta, terutama bagi perempuan, lebih mudah dirasakan melalui momen-momen kecil. Bukan dengan mata dan kata-kata.

Baca Juga : 

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *