Kuntilanak

kuntilanak

Hari ini sangat melelahkan, bagaimana tidak, seharian Gading harus mengerjakan semua tugas yang tertunda beberapa hari yang lalu di sekolah. Tidak biasanya Gading menunda tugasnya sebanyak itu, paling banyak cuma 2 atau 3 tugas. Mungkin karena kini Ia jauh dari rumah, jauh dari orangtuanya, namun lebih merasa aman karena menurut Gading orangtuanya itu telah salah arah dengan mempercayai akan adanya mitos dan paham yang menyimpang. Sekarang Gading ngekost di salah satu perumahan milik Mbak Anti, katanya sih Mbak Anti itu masih ada ikatan saudara dengan keluarganya. Setelah bebarapa menit berjalan dari sekolah, Ia sampai ke perumahan itu.

Ia masuk ke kamarnya yang berada di lantai 2, meletakan tas kemudian mengambil ponselnya di saku celana. Sepertinya Ia akan menelepon Emma, pacarnya sendiri. Yah, yang namanya pacaran itu dikit dikit nelepon dikit dikit ingin tahu keadaan pacarnya gimana.

Setelah lama Ia memuaskan rasa kangennya itu, kemudian Gading duduk di kasur dan melepas sepatunya, tapi di dekat bantal ada sebuah surat. Itu adalah surat dari orangtuanya, sebenarnya Gading males baca surat itu karena hampir setiap minggu orangtuanya mengirim surat, lebih enak nelepon kan dari pada harus menulis? tapi yah memang seperti itu orangtuanya, tidak mau memanfaatkan teknologi. dengan rasa berat Ia membaca surat itu yang intinya sama, meminta agar Gading harus pulang ke rumah. Tapi di akhir surat itu tertulis jika Ia tidak pulang ke rumah malam ini, maka Gading akan dijadikan sebagai tumbal. Di bagian bawah surat itu terdapat tiga tetesan darah, Gading mulai marah setelah mengetahui hal itu, Ia tidak menyangka orangtuanya bisa melakukan hal yang tidak bisa Ia jelaskan dengan kata kata, lalu diremasnya kertas itu dan dibuang ke luar jendela. Tak sengaja tapi kertas itu jatuh di samping Mbak Anti yang sedang menyiram pohon kantil, lantas Ia membukanya.

“Apa apaan ini, Aku mau dijadikan tumbal oleh orangtuaku sendiri. Mereka itu sudah gila ya?”. Gerutu Gading. Ia pergi menuju kamar mandi untuk mencuci muka, rasa lelah yang tadinya hinggap seketika berubah menjadi rasa emosi.

“Mereka itu kenapa? Anaknya sendiri tapi malahan akan mereka jadikan tumbal, sudah kubilang berkali kali Aku nggak akan pernah mau pulang dan nggak akan mengikuti kepercayaan mereka jika mereka sendiri masih saja mempercayai mitos bahwa dengan memelihara kuntilanak mereka akan jadi kaya dan abadi, mereka seperti tidak percaya tuhan!!!. Aku nggak percaya…!!!”. Ia berkali kali melempar air ke muka yang bermaksud untuk menjaga emosinya. Gading melihat dirinya di kaca lalu kembali menuju kamarnya.

Sementara di luar, Mbak Anti berhenti sejenak dari menyiram pohonya dan mulai membaca surat itu. Sekarang Ia tahu apa permasalahan yang sedang terjadi, Ia mulai takut masa lalu akan kembali dihidupkan. Ia berlari masuk ke rumah dan menuju kamar Gading.

“Aku harus gimana nih. Sebenarnya Aku juga sedikit takut jika mereka serius akan melakukan hal buruk itu, tapi gimana caranya. Gading mondar mandir sambil menjambak kepalanya sendiri, pikirannya mulai terasa kacau, Ia benar benar tak tahu apa yang sekarang harus dilakukan. Sementara Mbak Anti sudah menaiki tangga dan sampai di depan kamar Gading lalu masuk ke ruanganya. Mbak Anti belum sempat mengucapkan perkataannya bahwa sebelum Gading mimisan masih ada harapan untuk menyelamatkan nyawanya, tapi sudah terlambat, hidung Gading telah mengeluarkan darah, Gading pun tak menyadari bahwa hidungnya mulai mimisan.

Gading memegangi hidungnya yang mulai mengeluarkan darah, Ia tak tau apa yang sedang terjadi sekarang, saat ini Ia amat sangat ketakutan. Sementara Mbak Anti terlihat sedang mencoba membaca mantra untuk menangkalnya. Darah semakin mengalir dari hidung Gading, kemudian Mbak Anti mencoba untuk menerawangnya dan alangkah terkejutnya bahwa sebenarnya Gadding juga memiliki kuntilanak, Ia bisa menangkal bahkan bisa membalikan talak itu pada sang pengirim.

Sungguh, Gading benar benar menjadi orang paling tidak beruntung. Orangtua yang seharusnya mendidik, menjadikan anaknya sebagai orang yang baik tapi justru sebaliknya, demi harta mereka akan melakukan apapun bahkan rela untuk melapas anaknya sendiri.

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *