Lovely Man

Judul : Lovely Man
Produser: Teddy Soeriaatmadja, Indra Tamoron Musu, Adiyanto Sumardjono
Sutradara: Teddy Soeriaatmadja
Pemeran: Raihaanun Soeriaatmadja, Donny Damara

 

Sipnosis :

Poster film Lovely Man seperti mengejek kita, masyarakat yang penuh prasangka dan cenderung berpikiran beku ini. Seorang waria kekar berdandanan menor (Syaiful atau Ipuy, dimainkan oleh Donny Damara) bersanding intim dengan perempuan muda berwajah lembut mengenakan jilbab (Cahaya, diperankan Raihaanun), anak yang ditinggalkan di kampung lima belas tahun lampau.

Beragam persepsi berloncatan di benak kita, meskipun intinya tidak jauh dari klise keburukan vs. kebaikan. Waria menor, dalam persepsi kebanyakan kita, tidak lebih dari sampah masyarakat yang cuma dikenal sepintas melalui aktivitas menjajakan tubuh di pinggir jalan atau berkeliling mengamen dengan kegenitan palsu. Pada ekstrem lain, perempuan berjilbab merupakan simbol keimanan dan moralitas yang paripurna.

Saya bilang mengejek, karena penulis dan sutradara Teddy Soeriaatmadja, dengan penggambaran dua ekstrem karakter yang sangat kontras itu, seperti sengaja menyeret kita membayangkan persoalan pelik moralitas. Ia tahu betul, dominasi visual tersebut bakal menciptakan hegemoni makna, sehingga membutakan kita dari detail-detail kecil namun justru esensial. Padahal, film ketujuhnya ini “cuma” mendedah kepelikan relasi emosi dalam keluarga sebagai drama kehidupan yang bisa setiap saat dirasakan semua orang—tidak peduli ia waria atau bukan, berjilbab atau tidak. Pada poster, ia melukiskannya secara subtil dalam gestur campuran rindu, damai, dan pasrah Cahaya yang menyenderkan kepala ke pundak Syaiful.

Teddy secara cerdas berhasil menyingkirkan bungkus-bungkus superfisial itu, lalu dengan subtil dan sabar menggiring penonton menelusuri ruang-ruang hati Cahaya dan Syaiful yang senyap. Sebuah wilayah privat dan tertutup—barangkali karena kompleksitasnya—yang semakin jarang dipedulikan dan disentuh lagi dalam film-film Indonesia mutakhir. Hal itu menjadikan film ini terasa sangat personal dan emosional, sekaligus penting dan bernilai bagi khazanah perfilman kita. Di film ini bahkan Jakarta yang sangat kosmopolit tampil sebagai ruang pengap yang kian meneguhkan pilihan (atau takdir?) hidup Syaiful dan kemudian mempertemukannya dengan Cahaya sama sekali tidak penting.

Hebatnya lagi, Teddy tidak sedikit pun terjebak memasuki perdebatan filosofis perihal “pilihan” atau “takdir.” Baginya, jauh lebih penting setiap orang belajar menerima dan melakoni dengan berani setiap pilihan atau takdir dalam hidupnya. Tidak mudah dan tidak selalu berhasil, namun Syaiful dan Cahaya dengan segala kelemahannya adalah orang-orang hebat yang mau berikhtiar sampai batas-batas kemanusiaannya.

Maka, dalam konteks seperti itu, penutup film ini menjadi momen pemuncak yang sangat heroik. Syaiful tidak mungkin menuruti keinginan manusiawi Cahaya untuk menjadi ayah yang “normal”, karena kompleksitas “pilihan” atau “takdir” bukan perkara semudah memilih menyantap nasi atau kentang. Ia kemudian melakukan tindakan sederhana buat masa depan Cahaya, dengan risiko yang semuanya buruk belaka: hancurnya mimpi yang susah payah dibangun, kehilangan lelaki yang dicintai, bahkan terancam jiwanya. Ia, yang bukan siapa-siapa bagi siapa pun, diam-diam menjadi pahlawan bagi orang yang sungguh-sunguh mencintai dan dicintai.

Sama sekali tidak mudah menggambarkan suasana perasaan, gejolak emosi, dan situasi-situasi tidak kasat mata lainnya, melalui medium dengan dominasi visual yang bisa dikatakan hegemonis. Benar, akting pemain, terutama gestur tubuh dan ekspresi wajah—karena juga sangat visual—menjadi penting, kendati tetap bukan segalanya. Keseluruhan estetika film, mulai dari pengolahan gagasan, cara bercerita, struktur penceritaan, pemanfataan (dengan tepat) segenap unsur sinematografi, dan lain sebagainya, sama atau bahkan seringkali jadi lebih penting. Dalam hal itu, untuk sebagian besar Teddy sangat berhasil.

Rumah

Diam-diam setamat SMA Cahaya nekat ke Jakarta untuk mencari ayah yang meninggalkannya saat usainya baru empat tahun. Tentu saja ia sangat terkejut dan sedih mendapati sosok yang dirindukan setiap malam bekerja sebagai waria bernama Ipuy. Namun, sebagaimana semua orang mesti belajar menerima realita tak seindah mimpi, Cahaya tetap melangkah tegar. Toh, kehidupan lima belas tahun terakhir telah memberi banyak pengalaman yang jauh lebih mengaduk-aduk perasaan dan membuatnya menjadi perempuan muda yang kuat di balik kelembutan penampilannya.

Romantika pertemuan Cahaya dan Syaiful menyusuri tepi-tepi jalan dan pojok-pojok gelap Jakarta, yang hanya berlangsung semalam, merupakan semacam perjalanan spiritual singkat. Karakteristiknya menyerupai road movie, genre mengenai perjalanan dari satu tempat ke tempat lain yang, direncanakan atau tidak, memberikan pengalaman spiritual yang mencerahkan. Bedanya, dalam film ini momen-momen pemicu pencerahan sepenuhnya bermuara dari interaksi ayah dan anak, tanpa sedikit pun dipengaruhi ruang sosial, lanskap budaya, atau pengalaman lain yang berhubungan dengan tempat yang disinggahi.

Baca Juga : 

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *