Mama

mama

Jeff, sang ayah yang galau kemudian bermaksud membunuh kedua putrinya dan setelahnya membunuh dirinya sendiri. Namun sebelum dia berhasil melakukan niatnya, tubuhnya lenyap dibawa oleh sosok yang tak terlihat jelas. Di sini saya sempat berpikir kalau yang menolong anak-anak malang ini adalah hantu ibunya sendiri yang dibunuh oleh ayahnya. Apalagi sebelumnya Victoria sempat berkata kepada ayahnya bahwa dia melihat sosok perempuan yang kakinya tidak menyentuh lantai.  Dan  kalau dikaitkan dengan judulnya dan tagline film ini, A Mother’s love is forever, khan kena banget kalau saya kemudian mengasosiasikan ini hantu mamanya sendiri. But uppss…..

Lalu, adegan selanjutnya yang menyentuh di bagian ini adalah saat sang kakak, Victoria, memangku adiknya Lily yang masih demikian kecil (1 tahun), duduk di depan perapian  di tengah ruangan bobrok, tanpa teman, dan menunggu ayah yang tak mungkin kembali. Duh…, sebagai ibu, scene yang ini membuat hati saya serasa diremas-remas. Sedih..

Rasa sedih juga hadir saat mata disuguhi coretan di dinding, yang menggambarkan apa yang anak-anak tersebut lalui sepanjang hari. Saya tidak bisa membayangkan kalau hal seperti ini dialami oleh anak-anak saya. Dan mungkin ini titik awal justru muncul rasa simpathi pada sosok Mama. Setidaknya, kehadiran hantu yang selalu diartikan dengan ketakutan dan kengerian, di film ini justru saya melihatnya berbeda. Sosok ini benar-benar menjadi mama bagi anak-anak yang terlantar tersebut. Tentunya dengan caranya sendiri.

Awal kehadiran Mama memang terasa mencekam. Apalagi suara-suara yang muncul seiring kehadiran Mama, mampu membuat saya terkaget-kaget dan menyembunyikan wajah di dada suami (hehehe, suka film horor, tapi penakut). Pemandangan horor lainnya adalah saat pertama kali Victoria dan Lily ditemukan 5 tahun kemudian. Untuk scene yang ini prilaku Victoria dan Lily sepertinya mengadaptasi dari prilaku anak-anak yang diasuh oleh hewan (salah satunya adalah kisah nyata Oxana Malaya dari Ukraina).

Adegan lainnya yang membuat ketakutan saya berkurang terhadap si  Mama adalah saat melihat betapa bahagia dan riangnya Lily bermain-main dengan sang Mama di kamar. Rasanya saya seperti melihat diri saya tengah bermain dan bercanda dengan anak-anak sendiri di kamar. Di adegan ini sudah terlihat perbedaan  perubahan sikap dari  Victoria dan Lily. Victoria sudah menyadari “siapa” sosok sang Mama, dengan selalu membuka kacamatanya terlebih dahulu sebelum bertemu dengan Mama. Sementara Lily yang memang sejak kecil (1 tahun) di asuh oleh Mama, belum bisa melepaskan diri dari ikatan emosi antara dirinya dengan Mama. Bagi Lily, Mama merupakan sosok ibu yang sebenarnya untuknya.

Kehadiran Annabel menimbulkan rasa iri Mama. Annabel yang semula kurang menyukai anak-anak, mulai muncul naluri keibuannya, saat dia terpaksa harus mengurus Victoria dan Lily, sementara  Lucas masih berada di rumah sakit akibat jatuh dari tangga. Kedekatan yang terjalin membuat Annabel dan Victoria semakin dekat, namun belum dengan Lily.  Annabel  memang sudah mulai berhasil menyentuh hati Lily. Sayang, waktu tidak berpihak pada Annabel untuk lebih meraih hati Lily (saya sempet ngedumel dengan skenarionya, duh harusnya kedekatan Annabel dan Lily dibuat lebih lama supaya Lily bisa memilih ikut Annabel seperti kakaknya. Jadi endingnya tidak bikin nyesek hati, hiks ).

 

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *