Modus Anomali

Judul : Modus Anomali
Produser: Sheila Timothy
Sutradara: Joko Anwar
Pemeran: Rio Dewanto, Hannah Al Rashid, Izzati Amara Isman, Aridh Tritama, Surya Saputra, Marsha
Timothy, Sadha Triyudha, Jose Gamo, Roy Cunong, Isabelle Patrice, Maxi

Sipnosis :

Suatu siang di sebuah hutan. Kamera bergerak ke sana ke mari menampilkan pemandangan hutan, lengkap dengan satwa-satwa kecil yang menghuninya. Segalanya terasa sejuk dan nyaman sampai tiba-tiba muncul sebuah tangan dari tanah. Perkenalkan, ini John Evans (Rio Dewanto). Ia baru saja dikubur hidup-hidup, tanpa tahu siapa pelakunya, tak tahu juga kenapa ia ditimpa malapetaka tersebut. Telepon genggamnya, konon teman setia setiap manusia modern, juga tak banyak membantu. Daftar kontaknya sudah dihapus, dan ia lupa namanya sendiri ketika ditanya oleh operator emergency call.

Sebuah skenario survival pun tersajikan. Dalam sebuah pondok yang John temukan (setelah berlari tak  tentu arah), ada sebuah rekaman video dan mayat bersimbah darah. Dari sini John mengetahui bahwa istrinya telah mati ditikam seseorang berkostum dokter bedah. Melalui foto keluarga di dompetnya, John paham kalau kedua anaknya (beserta si pembunuh) masih berkeliaran di hutan.

Di sinilah kecakapan Joko Anwar sebagai peramu cerita ditantang. Ada satu plot pelik yang dihadapi John, ketika segala yang penting baginya dipertaruhkan. Namun, penonton sendiri tak tahu siapa John ini dan hampir tak ada alasan bagi penonton untuk bersimpati padanya. Betul, kita tahu istrinya baru saja dibunuh dan kedua anaknya masih berkeliaran di hutan, tapi dengan John amnesia, apakah kita bisa percaya begitu saja kalau mereka benar-benar keluarganya? Apa ia memang benar-benar meratap untuk keluarganya? Atau jangan-jangan ia hanya sekadar takut mati di tangan pembunuh keji ini? Apa juga yang si pembunuh cari dari John yang hampir penonton tak ketahui informasinya ini?

Atas misteri-misteri ini, suatu hal yang lumrah bagi film thriller macam Modus Anomali, pujian patut dialamatkan pada departemen kamera yang digawangi oleh Gunnar Nimpuno. Permainan kamera yang mereka terapkan membuat penonton mampu melupakan pertanyaan-pertanyaan seputar motivasi protagonis tadi, dan ikut tenggelam dalam ketegangan petualangan John. Kamera handheld diposisikan begitu dekat mengikuti protagonis, benar-benar lengket pada gestur John, meminimkan ruang pandang di sekitarnya. Dengan begini penonton diposisikan sama dengan John: sama-sama tidak tahu lingkungan sekitarnya.

Dalam latar malam nyaris tak berlampu yang mendominasi film, yang praktis memendekkan jarak pandang, John (dan penonton) hanya bisa menerka-nerka dari suara sekitar. Suatu atmosfer
paranoid pun terbangun. Siapa yang sedang berbicara di balik tembok itu? Dari arah mana si pembunuh akan datang menerkam?Pembangunan atmosfer yang baik ini diimbangi dengan perkembangan karakter yang terstruktur pula. Seperti yang kita ketahui, manusia tak semerta-merta menerima kehilangan.

Ada satu proses pembelajaran tersendiri, semacam formulasi perasaan, dari penyangkalan, amarah, penyesalan, hingga berakhir di penerimaan. Proses ini yang dilalui John Evans dalam Modus Anomali, mulai dari dia yang meratap saat melihat foto keluarga di dompetnya, dia yang kembali lagi ke pondok setelah lari menghindari si pembunuh untuk menyelimuti mayat istrinya, hingga dia yang marah ketika si pembunuh menyerangnya dan menantangnya secara terbuka. Ada dimensi emosional yang kemudian menyeruak dalam pertarungan John versus si pembunuh. Ini bukan pertarungan biasa, bukan parade visual belaka. Ini penebusan John atas kegagalannya sebagai kepala keluarga.

Baca Juga : 

 

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *