Nay

Judul : Nay
produser: Djenar Maesa Ayu
Sutradara: Djenar Maesa Ayu
Pemeran: Sha Ine Febriyanti

Kaca mobil adalah metafora untuk layar bioskop. Dari dalam mobil, dunia yang kita lihat tidak lagi jadi utuh, namun terpigura oleh kaca-kaca mobil itu seperti dunia yang kita lihat di sebuah bioskop—terpigura oleh frames pilihan si sutradara. Apalagi jika mobil itu bergerak, kaca-kacanya menjadi metafora yang makin sempurna lagi untuk pengalaman menonton sebuah film, karena bisa disandingkan dengan imaji frames dalam sebuah rol film yang bergerak cepat di dalam proyektornya.

Dalam Nay, film panjang ketiga Djenar Maesa Ayu setelah Mereka Bilang, Saya Monyet! dan Saia, konsep ini dibalik, penonton bukan berada di dalam mobil, namun di luar mobil. Selama hampir keseluruhan 80 menit film ini, penonton hanya disuguhi sosok Nay ngobrol di telepon di dalam mobil dengan berbagai karakter lain yang tidak pernah kelihatan sosoknya. Di akhir film, kita jadi mengerti banyak tentang dilema-dilema kehidupan yang dihadapi Nay sekarang, sejarah hidupnya, dan bagaimana sejarah itu mempengaruhi keputusan-keputusan moral yang harus dia ambil—sambil nyetir.

Djenar bukan orang pertama yang membuat film dengan gimmick seperti ini. Locke (juga nama karakter utamanya, seperti Nay), film Inggris rilisan 2013 yang disutradarai Steven Knight, juga menampilkan satu tokoh saja dan di sepanjang film si tokoh juga harus mengambil keputusan-keputusan yang akan mengubah jalan hidupnya—juga sambil nyetir.

Kemiripan Nay dan Locke tidak berhenti di gimmick. Cerita kedua film ini pun jika disarikan dalam sebuah treatment akan jadi kurang lebih sama: seorang bayi akan dilahirkan di dunia ini. Salah satu orangtuanya dipaksa untuk memilih, apakah akan membiarkan bayi ini lahir dan mengubah hidup yang mereka jalani sekarang, atau, apakah lebih baik mementingkan karir, yang jadi simbol status quo kehidupan mereka saat ini? Sementara, sejarah hidup mereka seperti mewanti-wanti agar mereka menjadi orangtua yang lebih baik daripada orangtua mereka yang dulu membawa mereka ke dunia namun kemudian menelantarkan mereka. Tapi, “lebih baik” itu seperti apa?

Dan kemudian, kemiripan pun berlanjut di detil-detil kedua film ini, baik di segi plot, dialog, maupun visual.

Djenar dan masalah kejiwaan

Selain menelepon, Nay juga berdialog dengan “hantu” ibunya di dalam mobil, tentang bagaimana dia tidak akan mengulang kesalahan-kesalahan ibunya membesarkan dia. Locke pun begitu, selain bercakap-cakap lewat telepon, di dalam mobil dia juga marah-marah kepada “hantu” bapaknya yang melarikan diri dari kewajiban membesarkannya.

Locke ingin menunjukkan bahwa dengan menghadiri kelahiran anaknya, dia tidak akan melarikan diri dari tanggung jawab seperti bapaknya. Perbedaan dari kedua adegan yang berulang-ulang di kedua film ini hanyalah bahwa hantu ibu Nay duduk di kursi penumpang depan, sementara hantu bapak Locke duduk di kursi belakang.

Waktu Nay menelepon Ben, pacar yang menghamilinya, tapi ternyata Mama Ben yang menerima teleponnya, Mama Ben menuduh Nay sebagai cewek murahan yang pasti sudah ditiduri siapa saja sehingga belum tentu Ben adalah ayah janin dalam kandungan Nay. Sementara, waktu Locke mengabari istrinya kalau dia sedang dalam mobil menuju ke London untuk menemani perempuan yang dia hamili melahirkan bayinya, si istri menuduh perempuan yang mau meniduri Locke dalam sebuah one night stand pasti mau meniduri siapa saja sehingga belum tentu Locke adalah ayahnya.

Kemudian, Nay dipaksa untuk memilih antara mempertahankan janin dalam kandungannya atau menggugurkannya agar dia bisa mengambil tawaran menjadi bintang sebuah film/video yang mungkin akan membantunya go international, sementara Locke memutuskan untuk meninggalkan momen pengucuran semen terbesar di Eropa yang menjadi tanggung jawab pekerjaannya untuk sebuah bentuk tanggung jawab yang lain: menghadiri kelahiran anak “haram”-nya.

Baca Juga : 

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *