Sanubari Jakarta

Produser: Lola Amaria, Fira Sofiana
Sutradara: Adriyanto Waskito Dewo, Alfrits John Robert, Aline Jusria, Billy Christian, Dinda Kanyadewi, Kirana Larasati, Lola Amaria, Sim F, Fira Sofiana, Tika Pramesti
Pemeran: Permatasari Harahap, Gesata Stella, Agastya Kandou, Reva Marchellin, Timothy Hendry Munthe, Pevita Pearce, Miea Kusuma, Hernaz Patria, Filippo, Tata Trianti, Herfiza Novianti, Albert Halim, Raditya, Gia Partawinata, Alviano, Haffez Ali, Dinda Kanyadewi, Dimas Hary CSP, Belvany, Ajeng Sardi, Kiki Machina, Raina, Ence Bagus, Reuben Elishama Hadju, Irfan Guchi, Arswendi Nasution, Jefan, Intan, Deddy Corbuzier, Illfie, Rangga Djoned, Ruth Pakpahan, Bemby Putuanda

Sipnosis :

Salah satu cara sederhana menjelaskan Jakarta Sanubari adalah dengan mengedepankan bentuk bungkusnya, yaitu sebuah proyek antologi film atau film omnibus yang menggarap tema mengenai kehidupan LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender) di Jakarta. Tentu saja bentuk sebuah film tidak melulu soal bungkus. Kali ini saya ingin menulis sedikit soal bentuk film dan impresi yang ditinggalkannya.

Risiko menjadi seorang penulis resensi adalah menonton terlalu banyak film yang tidak semuanya tak terlupakan. Pada akhirnya, yang terbekas adalah impresi-impresi belaka. Cuplikan-cuplikan dan kilasan-kilasan visual yang meninggalkan impresi tertentu.

Bagi saya, salah catu cara mengapresiasi film Jakarta Sanubari adalah dengan cara yang sama kita bisa mengapresiasi lukisan impresionis, aliran seni rupa modern yang dalam praktiknya merepresentasikan realita ke atas kanvas. Ia memahami benar segala batas-batas persepsi manusia. Realita tak pernah bisa ditangkap sepenuhnya, karena pada akhirnya yang tertinggal di ingatan hanyalah impresi-impresi belaka.

Impresi paling mendalam yang tertinggal dalam benak saya setelah menonton film Jakarta Sanubari mengingatkan saya pada citraan-citraan kaleidoskopik. Kaleidoskop sejatinya berasal dari gabungan tiga kata Yunani: ‘kalos’ (indah) + ‘eidos’ (bentuk) + akhiran ‘-skopein’ (melihat).

Mainan visual yang bermain-main dengan refleksi cermin dan secarik kertas/kaca berwarna ini berwujud tabung, yang jika diputar saat kita mengintip ke dalamnya, akan memperlihatkan impresi visual yang berwarna dan bergerak. Mirip dengan kilasan piksel-piksel cahaya aneka warna yang beberapa kali dipakai dalam film Jakarta Sanubari pada tiap transisi satu kisah ke kisah berikutnya.

Piksel-piksel cahaya ini bekerja sebagai penanda visual Jakarta di malam hari yang ramai oleh aneka lampu, dari lampu sen sampai lampu taman. Jakarta yang mirip mainan visual; melibatkan permainan gelap terang dan warna-warna dari refleksi cahaya. Jakarta yang kaleidoskopik.

Secara keseluruhan bentuk kisahan Jakarta Sanubari menyerupai cara ‘berkisah’ kaleidoskop ini. Ia berupa kilasan-kilasan kisah. Cuplikan-cuplikan kesan yang bagi beberapa orang mungkin hanya berbicara di permukaan mengenai persoalan-persoalan yang melingkupi kehidupan LGBT yang saya yakin jauh lebih kompleks.

Memperbincangkan LGBT akan melibatkan banyak sekali ranah wacana, baik soal seksualitas, identitas, gaya hidup, subkultur, sosial, ekonomi, hingga politik. Wacana-wacana besar yang mungkin akan butuh satu seminar besar sendiri untuk membahasnya.

Baca Juga : 

 

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *