Selamat Pagi, Malam

Judul : Selamat Pagi, Malam

Produser: Sammaria Simanjuntak, Sharon Simanjuntak
Sutradara: Lucky Kuswandi
Pemeran: Adinia Wirasti, Dayu Wijanto, Ina Panggabean, Dira Sugandi, Marissa Anita, Trisa Triandesa

Sipnosis :

Cik Surya menggeledah kamar suaminya yang baru saja mati. Innalillahi. Ada panah kiblat yang mengarah ke kondom di salah satu laci. Suaminya disinyalir punya gundik, pitam Cik Surya naik.
Indri mencuri sepatu bekas, lalu masuk restoran memesan risol dalam bahasa asing biar berkelas. Aslinya ia hendak bertemu laki-laki sixpack yang dikenalnya di internet. Tapi takdir memang kejam, laki-laki itu sekarang sudah mengembang bagai kembang gula. Foto avatarnya adalah foto lama, katanya.

Anggia yang baru pulang dari Amerika janjian bersua dengan cemceman lamanya, Naomi. Anggia yang masih keminggris dan belum bisa memulihkan skill berbahasa Indonesianya seperti semula, kaget. Cemceman yang ia damba ternyata telah larut dalam kemunafikan Jakarta. Gobloknya, Anggia tak sadar bahwa ia sendiri masih larut dalam kemunafikan Amerika. Selamat Pagi Malam adalah serangan cepat dua arah.

Serangan satu ditujukan pada mereka para tulalit budaya sehingga dengan tulusnya menyambut tipu-tipu kiwari lewat berbagai produk terkini. Banyak ponsel dengan banyak kartu, endemik tongsis (tongkat narsis) yang menular bagai sampar, kue bolu yang bila dinaikkan harga dan ragam pewarna akan jadi penanda gengsi ibu-ibu rumah tangga. Hipster. Selamat Pagi Malam hendak membabat kaum macam ini.

Serangan dua ditujukan untuk orang-orang yang gemar menghakimi hipster (belum ada istilah yang disepakati, tapi mari kita sebut kelompok ini “Kaum Metahipster”), kaum munafik yang menghina para tulalit budaya tanpa sadar bahwa ia sendiri melakukan apa yang dicelanya. Orang-orang yang menyumpahi kemacetan Jakarta padahal mobil di rumah tak kurang dari tiga. Orang yang cuap-cuap menentang investasi asing sambil minum Coca-Cola.

Tiga kisah kecil dalam semalam menjadi pecahan yang menyulam logika induktif sebuah surat protes penuh cinta pada Jakarta. Sutradara merangkap penulis naskah Lucky Kuswandi konsisten betul dalam memperagakan bahwasanya kritik via narasi-narasi besar lewat karakter-karakter beraura besar sudah waktunya jadi makanan lalat. Kinilah saatnya kritik disampaikan lewat hal-hal renik dan sehari-hari namun berkelindan rapat dengan sistem yang luas sembari membangun sistem yang luas itu sebagai tulang punggung tak kasat mata, tak ada di layar, namun bisa dirasakan pemirsa.

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *