Soekarno: Indonesia Merdeka

Judul : Soekarno: Indonesia Merdeka

Sutradara: Hanung Bramantyo
Pemeran: Ario Bayu, Maudy Koesnaedi, Lukman Sardi, Tika Bravani, Ferry Salim, Tanta Ginting,

Sipnosis :

Soekarno akhirnya difilmkan. Setelah Gie, Sang Pencerah, Soegija, Sang Kyai, tentu film biografis  Soekarno tinggal soal waktu. Besok-besok mungkin daftarnya akan bertambah lagi, dari Tan Malaka, Amir Sjariffudin, Sjahrir, dan entah siapa lagi. Tentu tak usah repot-repot menjelaskan siapa Soekarno. Ia bukan Haji Misbach atau Amir Sjarifuddin yang seandainya meninggal kemarin sore, pasti akan disambut heran oleh anak-anak sekolah kita, sebagaimana mereka merespon kematian Mandela di media sosial.

Soekarno-nya Hanung adalah yang paling pertama mengangkat sosok sang proklamator di layar lebar sebagai film biografi. Sebelumnya, karakter Soekarno lebih sering menjadi bagian dari cerita yang lebih besar. Usmar Ismail jauh-jauh hari, di tahun 1955, membuat Tamu Agung yang mengejek Soekarno sebagai calon diktator. Anehnya, di saat sejumlah suara meminta film itu dilarang, Soekarno malah tertawa-tawa menyaksikannya di istana. Beberapa kali juga mini seri di televisi bertema sejarah proklamasi diputar sekitar tanggal 17 agustus. Kisahnya tak baru: Soekarno dan Hatta tengah ditekan para anak-anak muda radikal yang tak sabar supaya kemerdekaan dideklarasikan di tengah ancaman Jepang.

Di film lain, Gie misalnya, potret diri Soekarno cenderung negatif: seorang penguasa tua yang hobi kawin, bahkan di saat  kekuasannya memasuki senjakala pasca-peristiwa G30S. Penggambaran macam ini diperkuat lagi dengan pembangunan setting sosial seperti antrian beras dan rakyat kecil yang penyakitan. Singkatnya, panorama buruk ‘Demokrasi Terpimpin.’ Gambaran serupa bisa ditemukan di film Years of Living Dangerously (Peter Weir, 1982), di mana Soekarno, dilihat dari sudut pandang seorang wartawan Amerika, berada di tengah-tengah polarisasi politik antara PKI dan tentara, seraya tak henti-hentinya membangun Jakarta menjadi kota mercusuar untuk New Emerging Forces.

Tak pelak lagi, inilah imajinasi populer tentang Soekarno dan jamannya: monumen-monumen megah revolusi di tengah kelaparan massal dan ‘ofensif PKI.’ Lalu sosok Soekarno yang seperti apa yang ditawarkan Hanung Bramantyo?Kisah Soekarno: Indonesia Merdeka (selanjutnya Soekarno) merentang dari masa kecil Soekarno ke saat-saat dimana naskah proklamasi dibacakan. Namun, bagian terbesar dari film ini mengambil masa-masa di mana Soekarno diasingkan, jaman pendudukan Jepang, hingga persiapan proklamasi kemerdekaan. Di bagian awal, kita menyaksikan masa kecil Soekarno. Sesuai penuturan sejarah populer: ia sakit-sakitan sehingga harus ganti nama, dari Kusno ke Soekarno.

Paparan singkat tentang masa kecil itu segera beralih ke masa di mana orientasi intelektual dan politik Soekarno terbentuk. Tinggal dalam kos-san legendaris milik Tjokroaminoto bersama Musso dan Kartosuwiryo, singkat diperlihatkan perjumpaannya pemikiran-pemikiran politik di jamannya.  “Kusno, apakah kamu seorang Marxis?” tanya Mien, seorang gadis Belanda teman sekolah Soekarno. Kusno—nama Soekarno kecil—tak menjawabnya. Alih-alih, ia segera mengincar bibir Mien. Sayang, adegan cinta monyet itu terpotong oleh lemparan sandal bapaknya yang diam-diam mengintip.

Pun Kusno tak ambil pusing dengan sikap sang bapak. Ia digambarkan punya rasa percara diri yang tinggi sampai-sampai mengira bahwa si gadis londo akan takluk. Mien memang kelihatan kesengsem berat. Namun pujaan hatinya itu malah diusir oleh sang ayah ketika bertandang ke rumahnya. “Kau tak pantas memacari anak saya, kita tak segolongan.” Soekarno remaja diusir. Dua jongos berkulit coklat menyeretnya keluar dari rumah Mien. Pengalaman ini rupa-rupanya meninggalkan trauma yang dalam.

Kusno segera sadar akan posisinya sebagai warga kelas kambing di Hindia-Belanda, sehingga dalam film ini  ia langsung belajar pidato di kamar kosnya tiap larut malam, dengan berapi-api.

Baca Juga : 

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *