Sokola Rimba

Judul : Sokola Rimba

Produser: Mira Lesmana
Sutradara: Riri Riza
Pemeran: Prisia Nasution, Nyungsang Bungo, Nengkabau, Beindah, Rukman Rosadi, Nadhira Suryadi, Ines Somellera, Netta KD, Dery Tanjung

Sipnosis :

Kalau mau cari inspirasi, jangan tonton Sokola Rimba. Film terbaru Riri Riza ini bukan soal kisah sukses, bukan pula roman tentang kepahlawanan. Berbeda dengan sosoknya yang begitu menjulang dalam poster film, sosok Butet Manurung (diperankan Prisia Nasution) terlihat begitu kecil dan remeh selama 90 menit durasi film. Tak sedetikpun ia berbagi tentang mimpi-mimpi revolusioner, tak juga berhambur sajak-sajak magis tentang suatu model kebajikan.

Ketika ditanya oleh seorang peneliti kenapa ia menjadi pengajar, Butet melanturkan sebuah jawaban yang teramat ‘biasa’: lulus kuliah, tidak tahu mau apa, lihat ada lowongan pekerjaan sebagai guru di pedalaman, menganggapnya sebagai petualangan yang eksotis, lalu mendaftar. Adapun sekelumit kisah tentang orangtuanya, “Kalau Bapak masih hidup, saya mungkin tidak akan ada di sini. Ibu yang mendukung saya mengambil pekerjaan ini.” Jadilah ia mengajar baca-tulis dan berhitung untuk masyarakat Suku Kubu, dikenal juga sebagai Orang Rimba, yang bermukim di hulu dan hilir Sungai Makekal, Taman Nasional Bukit Dua Belas, Jambi.

Butet juga tidak pernah benar-benar ‘menang’ dalam Sokola Rimba. Sampai dengan kredit film bergulir, tak sekalipun kita melihat adanya perubahan yang drastis dalam kehidupan Orang Rimba—takada kepastian apabila suku pedalaman ini bisa lepas dari tirani kepentingan pengurus taman nasional dan pemilik perkebunan kelapa sawit. Tak juga kita melihat Butet mendapat timbal balik yang setimpal untuk upayanya bersusah-susah memperjuangkan pendidikan dan hak Orang Rimba.

Di lingkungan kerjanya, sebuah lembaga konservasi alam bernama Wanaraya, Butet dicibir oleh atasannya karena terlalu jatuh hati dan terlalu peduli dengan khalayak Orang Rimba yang selama ini ia temui— di awal film Butet diselamatkan seorang anak dari hilir Sungai Makekal ketika ia jatuh pingsan akibat malaria, yang mendorong Butet untuk memperluas wilayah kerjanya. Di kalangan Orang Rimba sendiri, Butet sempat diusir karena dianggap menyebarkan kutukan lewat ilmu pengetahuan—tak lama setelah Butet mengajar di kawasan hilir Sungai Makekal, pemimpin kelompok setempat tutup usia.

Pencapaian tertinggi Butet dalam Sokola Rimba adalah beberapa anak yang bisa membaca. Tidak lebih, tidak kurang. Menariknya, justru karena penyikapan yang bersahaja ini, Sokola Rimba menjadi begitumencuat. Dalam film ini, pendidikan tidak hadir sebagai batu loncatan atau solusi instan menuju kemakmuran. Ia hadir sebagai alat yang Orang Rimba bisa pakai pada hari-hari mendatang untuk kebutuhan mereka. Hasil akhir itu masalah nanti. Yang penting prosesnya dulu.

Baca Juga : 

 

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *