The Raid 2 Berandal

Judul : The Raid 2 Berandal

Produser: Ario Sagantoro, Nate Bolotin, Aram Tertzakian
Sutradara: Gareth Evans
Pemeran: Iko Uwais, Julie Estelle, Yayan Ruhian, Donny Alamsyah, Arifin Putra, Tio Pakusadewo

Sipnosis :

Menonton The Raid: Redemption dan The Raid 2: Berandal mengingatkan saya pada cerita lama tentang seorang polisi Jerman yang menyambangi Picasso di kediamannya. Heran melihat “kekacauan” dalam lukisan Picasso, sang polisi bertanya, “Apakah kau yang melakukan ini?” Picasso menjawab tenang, “Bukan. Kau yang melakukan ini.” Cerita lama ini terbayang-bayang tiga tahun yang lalu ketika di sebuah bioskop sewaktu saya ditohok-tohok dan ditonjok-tonjok oleh setiap jotos-tendang dalam Redemption.

Terasa dekat sekali masalah-masalah yang ditampilkan: kelompok ilegal, rumah susun sebagai metafora hirarki, dan perjuangan polisi awam yang saking butanya terhadap sistem, harus menghadapi segala sesuatunya dengan otot. Lama saya berpikir. Apa yang sebenarnya sedang dilakukan oleh sutradara Gareth Evans? Apakah ia tengah memeragakan yang disebut Margaret Bruder sebagai “aestheticized violence”? Mungkin saja iya.

Bergeser dari fokusnya pada silat dalam film Merantau, pada Redemption Evans membawa kita pada labirin berdarah-darah untuk menyelesaikan masalah sistem yang juga sudah mendarah-daging di republik ini, dan sang tokoh utama, tak lain tak bukan adalah orang yang terperangkap dalam masalah sistem tersebut. Meminjam kembali analogi cerita Picasso, Redemption penting bukanlah karena Evans (atau siapapun, tak peduli  muasalnya) yang melakukannya, melainkan karena saya bisa mengidentifikasi diri saya dalam film itu sebagai warga. Masalah yang sedang diatasi oleh Rama adalah masalah warga.

Identifikasi ini tak ada hubungannya dengan keasyikan menonton kekerasan, atau perkara kekerasan yang di-seni-kan seperti kata Bruder. Ternyata jawabannya lebih daripada itu. Dalam Redemption, kekerasan adalah satu-satunya cara untuk bernegosiasi dengan rezim. Maka saya lebih suka melihat koreografi aksi dalam Redemption sebagai sebuah penggambaran ketidakmungkinan untuk bernegosiasi menggunakan lidah dengan para rezim. Jotos-jotosan dalam Redemption menjadi penting bagi saya bukan sebab teknisnya yang menakjubkan, melainkan karena moda potretnya atas kekerasan sebagai satu-satunya medium negosiasi yang mungkin antara pelaku sistem yang lemah dan orang-orang yang menguasai sistem tersebut (ingat CCTV di ruangan Tama Riyadi, sebuah piranti kontrol atas hirarki yang dibangunnya) .

Rama mungkin adalah bagian dari polisi, aparatur negara yang bersifat represif, tapi kekerasan dalam mise-en-scene bukanlah kemauannya. Maka kekerasan dalam Redemption sama seperti sulap. Dua hal ajaib yang berharap bisa dilakukan seorang warga untuk mengubah situasi sistemiknya.Atas kenangan manis bersama Redemption, berbinar-binar saya datang ke bioskop untuk menyaksikan Berandal.

Ceritanya Rama (Iko Uwais) harus bekerja sama sekali lagi dengan atasannya. Alasannya kuat, nama Rama sudah mulai terendus oleh kutub-kutub kekuatan mafia di Jakarta. Bila tak bekerja
sama, diri dan keluarganya bisa saja menjadi korban. Menggunakan skenario atasannya, Rama dijebloskan ke penjara untuk mendekati Uco (Arifin Putra) yang kemudian akan mendekatkannya dengan seorang menteri korup bernama Bangun (Tio Pakusadewo).  Di sisi lain, terlibat pula seorang mafia bernama Bejo (Alex Abbad) yang disinyalir telah membunuh Andi (Dony Alamsyah), kakak Rama.

Baca Juga : 

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *