The Raid

Produser: Ario Sagantoro
Sutradara: Gareth H Evans
Pemeran: Iko Uwais, Pierre Gruno, Ray Sahetapy, Joe Taslim, Tegar Satria, Verdi Solaiman, Ananda George, Eka Rahmadia, R Iman Aji, Donny Alamsyah, Yayan Ruhian

Film dibuka dengan cut-to-cut Rama (Iko Uwais) shalat, berlatih dengan sansak, dan pamit pada istrinya yang sedang hamil. Diselingi Jaka (Joe Taslim) memberikan briefing kepada pasukan kecilnya di dalam mobil van yang melaju ke sasaran.

Lalu pengenalan pada Tama (Ray Sahetapy), yang, setelah mengunyah mie instan, dengan dingin menembak kepala beberapa orang. Pada sasaran terakhir pelurunya habis. “Sabar ya,” katanya, lantas membuka laci berisi martil dan beberapa butir peluru. Ia mengambil pemukul dari besi itu dan menghantamkannya ke kepala orang terakhir yang tersisa.

Di dalam kepala penonton langsung terbayang: malaikat dan setan bakal berhadap-hadapan dalam sebuah pertempuran yang kasar tapi keren.

Sutradara Gareth Evans kemudian memang menenuhi janjinya. Sampai sekitar satu jam pertama kita disuguhi serangkaian adegan saling bunuh dengan senjata otomatis yang benar-benar brutal. Bahkan anak kecil, yang bisa saja sekadar sedang berada di tempat yang salah karena kecenderungannya menjelajah ke mana-mana, tidak dikecualikan. Tetap harus dibungkam dengan tembakan yang menembus punggung dan dadanya.

Sekadar membunuh lawan seakan bukan tujuan, karena target terus diberondong puluhan tembakan tanpa ampun. Semuanya digambarkan secara telanjang tanpa manipulasi kamera atau penyuntingan, dan lolos dari gunting sensor LSF. Peluru-peluru melesat ke bagian depan tubuh atau kepala sampai menembus keluar di bagian belakang bersama puncratan darah segar.

Dengan itu penonton diyakinkan bahwa ini adalah cerita tentang kemarahan, bukan sekadar cerita aksi. Kemarahan pada orang-orang yang kebal hukum sehingga merasa bisa bersikap seenaknya. Kemarahan karena kenyamanan hidupnya selama bertahun-tahun diganggu. Juga kemarahan karena pengganggu kenyamanan itu adalah orang-orang—setidaknya instansinya—yang selama ini menerima uang tutup mulut dalam jumlah besar.

Paruh terakhir film, diselingi beberapa scene drama yang agak menye-menye, dilanjutkan adu jotos dengan tangan kosong dan senjata tajam, yang tidak kalah keras dan sadis. Motif dan polanya sama: kemarahan yang melahirkan kebrutalan. Maka, kepala lawan harus di-jedut-kan berulang-ulang ke tembok, pisau komando mesti ditancapkan berkali-kali ke dada, dan leher musuh perlu digorok, supaya kemarahan itu lunas terbayar.

Baca Juga : 

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *